Olahraga

Terapkan Teknologi Tinggi, Rahasia Jerman Juara Piala Dunia

Administrator | Selasa, 15 Juli 2014 - 21:00:41 WIB | dibaca: 10016 pembaca

Foto handout pada 13 Juli 2014 oleh Bundesregierung, kantor pers pemerintahan Jerman, yang memperlihatkan Kanselir Jerman Angela Merkel (tengah) dan Presiden Jerman Joachim Gauck (tengah kiri) serta para pemain dan pelatih Jerman, Joachim Loew, merayakan kesuksesan Der Panzer menjuarai Piala Dunia 2014 setelah menang 1-0 atas Argentina di final, Minggu (13/7/2014) di Maracana Stadium di Rio de Janeiro, Brasil.

KOMPAS.com — Jerman telah mempersiapkan diri dengan sangat baik untuk menyambut putaran final Piala Dunia 2014 di Brasil. Der Panzer memanfaatkan teknologi tinggi dalam penerapan latihan, bukan percaya dengan hewan peramal ataupun dukun.

Hasilnya, Der Panzer pun menuai hasil dari kerja kerasnya. Mereka menjadi juara dunia setelah pada final, Minggu (13/7/2014), menang 1-0 atas Argentina.

Selama melakoni pertandingan pada event ini, pelatih Joachim Loew ternyata senantiasa ditemani tim analis yang bertugas untuk memantau segala macam perkembangan pemainnya. Tim analis itu bertugas mengevaluasi segala macam tindakan, pergerakan, serta perkembangan performa Thomas Mueller dkk pada setiap sesi latihan dan pertandingan. Teknologi ini pun dapat menganalisis kelemahan pemain lawan.

Adalah perusahaan asal Jerman, SAP, yang diminta oleh Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) untuk mengeluarkan sebuah perangkat khusus bagi timnas mereka. Dilansir dari laman Telegraph, keterlibatan SAP untuk membantu Jerman telah dimulai sejak 2010.

Melalui teknologi ini, mereka dapat mengeluarkan hingga 7 juta lembar data tiap sesi latihan atau pertandingan. Data tersebut menampilkan statistik dan grafik analisis perkembangan para pemain di tengah latihan ataupun pertandingan. Grafik ini dapat dilihat pelatih pada tablet ataupun smartphone.

Data dipakai untuk mengukur kinerja utama pemain, seperti jumlah sentuhan, kecepatan pergerakan, rata-rata waktu memegang bola, dan kecepatan pergerakan pemain. Bantuan dari alat ini terbukti mampu menekan rata-rata lamanya pemain Jerman memegang bola dari 3,4 detik pada tahun 2010, turun menjadi 1,1 detik pada tahun 2014.

Melalui perangkat inilah, Loew dan asisten pelatih menganalisis kekurangan setiap pemainnya. Pada latihan selanjutnya, pria 56 tahun itu akan memberi tahu letak kekurangan pemain per individu. Mengacu pada hasil analisis ini, tim pelatih memutuskan akan menurunkan pemain yang paling siap bermain dalam sebuah pertandingan.

"Bayangkan, keterlibatan SAP dalam waktu 10 menit, 10 pemain dengan tiga bola, dapat menghasilkan data lebih dari 7 juta lembar. Tim kami kemudian menganalisis data ini untuk menyesuaikan pelatihan dan mempersiapkan diri untuk pertandingan berikutnya," ungkap manajer timnas, Oliver Bierhoff, yang senantiasa menemani tim pelatih Jerman setiap pertandingan, termasuk final.

Meski demikian, Jerman hanya mampu menggunakan teknologi ini dalam sebuah pertandingan resmi. Pasalnya, FIFA telah menerapkan aturan tidak membolehkan teknologi sensor dalam bentuk apa pun kepada setiap tim selama pertandingan resmi berlangsung. Tim analis Jerman pun hanya dapat menganalis pemain lawan dengan menonton melalui video pertandingan. Saat data lawan terungkap, Loew merancang taktik dan strategi yang akan diterapkannya.

Diyakini, selain skill pemain Die Mainschaft yang mumpuni serta ditopang pula oleh teknologi tinggi, skuad Jerman akhirnya meraih gelar juara dunia keempat mereka. Berkat penggunaan teknologi itu, pemain dengan mudah menebak arah alur bola lawan yang dihadapi, mematikan pergerakan pemain andalan lawan, serta mencari celah untuk mencetak gol.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)