Bisnis

Kejatuhan Harga Minyak Untungkan Asia

Administrator | Rabu, 07 Januari 2015 - 15:31:32 WIB | dibaca: 3235 pembaca

Kejatuhan harga minyak dunia terbukti menguntungkan bagi sebagian besar negara Asia yang bersandar pada impor minyak mentah.

Penurunan harga ke posisi terendah dalam lima tahun terakhir ini telah membuat negara seperti India dan Indonesia dapat membelanjakan anggaran untuk sektor infrastruktur dan proyek pertumbuhan lain, tanpa memicu inflasi. Cina pun mendapat angin untuk mendongkrak perekonomiannya.

Bersama kebijakan moneter longgar dan pemulihan bertahap dalam permintaan barang dan jasa, kemerosotan harga minyak dapat ikut mengangkat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Asia dari 4,3% menjadi 4,7% pada 2014, demikian keterangan firma konsultasi Capital Economics.

“Penurunan harga minyak sungguh mengejutkan,” ujar Cedric Chehab, kepala divisi penelitian Business Monitor International, anak usaha Fitch Ratings. Kemerosotan harga itu “baik bagi konsumen, tapi akan memiliki efek asimetris di Asia.”

Dampak dari setiap 10% penurunan harga minyak terhadap PDB, inflasi, dan neraca transaksi berjalan di beberapa negara Asia.
Neraca perdagangan minyak sebagai persentase PDB di beberapa negara Asia.

Minyak menyumbang 18% impor di negara-negara Asia selain Jepang, atau sekitar 3,4% dari PDB. Sekitar 18% impor Jepang berasal dari sektor minyak, atau 3,3% dari PDB, demikian Capital Economics.

Di antara negara-negara Asia, tak satu pun yang lebih bergantung pada impor minyak ketimbang Cina. Negara tersebut membelanjakan $234,4 miliar untuk mengimpor minyak pada 2013.

Menurut para pengamat, jika harga minyak tahun ini 20% lebih rendah dari rata-rata 2014, pemerintah Cina dapat berhemat $50 miliar.

Harga rata-rata minyak pada 2015 dapat mencapai $53 per barel, penurunan yang hampir mencapai 50% dibandingkan dengan harga rata-rata 2014.

Penikmat sesungguhnya penurunan harga ini adalah India dan Indonesia, yang masing-masing tengah mengalami defisit transaksi berjalan. Kedua negara dapat memangkas suku bunga tanpa mengkhawatirkan dampak inflasi, ujar Chehab dari Business Monitor International.

Pemerintahan Narendra Modi dan Joko Widodo telah mengurangi sebagian besar subsidi bahan bakar minyak yang telah melumpuhkan kebijakan di masa lalu.

Indonesia, contohnya, telah sama sekali menangguhkan subsidi bahan bakar bensin premium pada hari terakhir 2014, sebulan setelah menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar sepertiganya. Jika Presiden Joko Widodo memenuhi janjinya menggencarkan reformasi subsidi bahan bakar, plus menerapkan kebijakan ekonomi dan administratif yang mendukung, Chehab menilai pertumbuhan PDB Indonesia tahun ini bisa mencapai 5,5%. Angka perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2014 adalah 5,1%.

Selain Indonesia dan India, negara lain yang mendapat manfaat adalah Filipina, Korea Selatan, dan Taiwan.

—Dengan kontribusi dari Saurabh Chaturvedi di New Delhi, Jason Ng di Kuala Lumpur, dan Rhiannon Hoyle di Sydney.

sumber: indo.wsj.com










Komentar Via Website : 1
obat kuat
21 Oktober 2017 - 07:45:00 WIB
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)