Komunitas

Kalangan IT Nyatakan Bergabung ke Barisan Relawan Jokowi

Administrator | Minggu, 11 Agustus 2013 - 22:32:48 WIB | dibaca: 2139 pembaca

TRIBUNNEWS.COM/YOGI GUSTAMAN Jokowi melantik satgas Anti Curang dan Anti Money Politic

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah tenaga pengajar informasi teknologi (IT) di sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia yang tergabung dalam Forum Akademisi IT (FAIT), menyatakan bergabung ke dalam Barisan Relawan Jokowi Presiden 2014 (Relawan Jokowi atau Bara JP). Forum akan mengawal Jokowi dari aspek aplikasi IT, demi memastikan segalanya berjalan dengan benar dan jujur. FAIT bertekad mengakhiri kebohongan melalui IT pada masa lalu.

“Kami akan mengerahkan mahasiswa IT di seluruh Indonesia untuk memastikan kejujuran dalam semua hal, mulai dari data pemilih, partisipasi pemilih, proses di tempat pemungutan suara (TPS) dan penghitungan suara. Rakyat tidak bisa dibohongi lagi, maka kami harus mengawal,” kata Ketua FAIT, Hotland Sitorus di Jakarta, Minggu (11/8/2013).

Hotland, mahasiswa Program Doktor (S3) Jurusan IT sebuah universitas negeri, mengatakan, hal yang paling perlu diwaspadai adalah penggunaan data berulang, nama berbeda namun orang itu-itunya juga. Data berulang bisa dimanfaatkan dengan jumlah tidak terbatas, sehingga bisa mengelabui hasil pemungutan suara. Maka Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) harus waspada, dan kami siap membantu DKPP.

Bersama Relawan Jokowi, dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 mendatang, FAIT akan mengumpulkan hasil penghitungan di tingkat TPS di seluruh Indonesia. Hasilnya akan langsung dilaporkan ke web,  dan menjadi real count. “Manakala hasil perhitungan kami berbeda dengan pengumuman KPU, maka kami akan meminta kepada DKPP agar FAIT diberi ijin memvalidasi data KPU. Demokrasi harus ditegakkan, kebenaran harus diutamakan. Pokoknya rakyat tidak bisa dibohongi lagi,” tegasnya.

Menjawab pertanyaan, apakah FAIT sedang berpolitik dengan mendukung Jokowi Presiden, Hotland dengan tegas membantah pihaknya berpolitik. “Pemahaman kami sederhana saja. Berpolitik berarti masuk partai politik, sedangkan kami hanya menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian. Jadi ini pengabdian, bukan berpolitik,” jelasnya.

Hotland mengutip gagasan mantan Menteri Pendikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Dr Fuad Hasan tentang kejujuran akademis (academic honesty). FAIT menjauhi academic ignorance (kesombongan akademis), namun membina academic conscience (kesadaran akademis).

“Kesadaran akademis melahirkan kejujuran akademis. Kami di garis ini,” kata Hotland yang kerap menjadi saksi ahli di pengadilan.

Selain FAIT, Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) yang dipimpin Muchtar Pakpahan juga bergabung dalam Relawan Jokowi, di mana Muchtar juga Ketua Bidang Perburuhan dalam Dewan Pengurus Pusat (DPP) Relawan Jokowi. Forum Penikmat Filsafat (FPF) bergabung pula, Ketua FPF Ferdi Semaun, menjadi Sekjen Relawan Jokowi.

Ketua Bidang Organisasi DPP Relawan Jokowi, Utje Gustaaf Patty dalam kesempatan yang sama mengatakan, dalam struktur DPP, perwakilan dari FAIT akan menjadi Ketua Bidang IT. “Dukungan kepada Jokowi berarti dukungan kepada perubahan. Ide dasar kami adalah perubahan, dan jawabannya ada di Jokowi. Jadi bukan bermula dari fanatik Jokowi,” ujar Utje, aktivis mahasiswa di Bandung 1978.
           
Jalintar Simbolon, Ketua Bidang Hukum DPP Relawan Jokowi, memastikan FAIT tidak melanggar hukum dan peraturan Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Berpolitik sebagai kata kerja, berarti masuk partai politik. Kartu anggota menjadi legitimasi berpolitik secara resmi. Kalau hanya melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi, unsur politiknya di mana? Apa pun, Relawan Jokowi yang didukung ribuan lawyer, siap mengawal FAIT,” tandas Jalintar.

Sihol Manullang,

(Ketua Umum Relawan Jokowi)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)