Reformasi Migas

Faisal Basri: Pertamina, Jujurlah...

Administrator | Jumat, 05 Desember 2014 - 17:47:19 WIB | dibaca: 1550 pembaca

JAKARTA, KOMPAS.com — Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi yang juga kerap disebut sebagai Tim Anti-Mafia Migas mengecam Pertamina yang tak juga terbuka soal proses pengadaan bahan bakar minyak, terutama yang dibeli lewat Pertamina Energy Trading Limited (Petral).

Ketua tim ini, Faisal Basri, mengatakan, timnya telah mendapati temuan bahwa pembelian bahan bakar minyak oleh Petral tidak dilakukan langsung ke perusahaan minyak milik suatu negara (NOC, national oil company), tetapi masih lewat perantara (trader). Namun, ujar dia, informasi dari Pertamina menyebutkan Petral membeli minyak langsung dari NOC.

"Menurut saya, humas itu kan tugasnya bukan berbohong. Dia menjelaskan sesuatu sesuai dengan duduk perkaranya. Itu saja kok," kata Faisal, Kamis (4/12/2014). "Jadi adalah tidak benar dari temuan kami itu bahwa pengadaan minyak di Indonesia langsung ke NOC," kata dia.

Meski demikian, Faisal mengatakan, pembelian lewat trader juga bukan berarti serta-merta tercela. "Tapi, tolong kalau kasih penjelasan itu yang jujur," ujar dia. "Ada trader yang merealisasikan kontrak-kontrak itu, bukan NOC-nya seperti yang diklaim Pertamina dan Petral," imbuh dia.

Faisal mengatakan, timnya pun sudah mendapati sekarang ada 97 trader aktif di sektor migas ini. Mereka, kata dia, menggandeng pula perusahaan pengolah (refiner) untuk mengoplos RON92—standar kualitas bahan bakar minyak yang dirujuk Pertamax—menjadi RON88—standar bahan bakar minyak bersubsidi jenis premium.

Refiner inilah, kata Faisal, yang mendapat pasokan minyak mentah dari produsen minyak. "Kalau dilihat, mata rantai minyak impor Indonesia cukup panjang," kata dia. Runutan rantai impor bahan bakar minyak itu adalah Pertamina mendapatkannya dari Petral yang memperoleh minyak itu dari trader.

Adapun trader mendapatkan minyaknya dari refiner yang membeli minyak dari NOC. Di samping NOC (BUMN dalam istilah yang dikenal di Indonesia), ada pula penghasil minyak yang disebut sebagai Major Oil Company (MOC).

"(Sebenarnya) Tidaklah haram, tidak cela membeli dari traders. (Tapi) Sekarang Pertamina bilang, enggak kok kami tidak beli dari traders, tapi langsung dari NOC. Padahal, kenyataannya (ada trader yang digunakan, seperti) Hin Leong, (juga) Kernel Oil yang sebelumnya terjerat kasus," ujar Faisal.

Faisal pun menjelaskan bahwa Hin Leong adalah trader yang kredibel. "Yang kita paling benci kan kalau ngebohong ya," kata dia.

Soal pasokan bahan bakar minyak bersubsidi jenis premium alias RON88, 70 persen di antaranya merupakan produk impor. Kondisi tersebut berkebalikan total dengan situasi pada 2007 ketika 70 persen premium dipasok dari kilang di dalam negeri.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)