Internasional

Diskusi Politik di Singapura: Jokowi Bawa Angin Segar untuk Demokrasi

Administrator | Kamis, 26 Desember 2013 - 16:54:20 WIB | dibaca: 1908 pembaca

SINGAPURA, KOMPAS.com - Pengamat Politik Dr Gun Gun Heryanto memaparkan bahwa demokrasi Indonesia telah bergerak di arah yang benar. Hal itu diungkapkan Gun Gun di acara Global Indonesian Voices (GIV) Young Leaders’ Night di Singapura, Minggu (22/12) lalu.

Dr Gun menegaskan, demokrasi Indonesia sedang menjalani proses transisi menuju konsolidasi dan pelembagaan politik. Tidak dipungkiri, banyak pihak terutama generasi muda yang putus harapan, jenuh akan jalannya demokrasi. Korupsi merajalela dan terkesan terjadi kartelisasi politik. Dia menilai hal itu lumrah mengingat demokrasi Indonesia sedang dalam masa transisi.

Sisi positif yang bisa dipetik, kata Dr Gun, adalah munculnya figur muda yang membawa angin segar seperti Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, Tri Rismaharini, dan Bima Arya. Partisipasi pemilu juga selalu lebih tinggi dari negara –negara demokrasi di Eropa atau bahkan Amerika Serikat.

Menurutnya, Pemilu 2014 akan menjadi watershed election untuk membawa Indonesia menuju lembaran demokrasi yang lebih terkonsolidasi. Generasi Muda (di bawah 45 tahun) mewakili 106 dari 180 juta pemilih akan menentukan masa depan negara. Perlu adanya dorongan agar mereka tidak apatis.

Pemerintah, menurut Dr Gun, wajib memfasilitasi penyelenggaraan pemilu yang berkualitas. Diharapkan, Pemilu 2014 dapat melahirkan sosok pemimpin transformatif yang tidak elitis, tidak berpikir akan "keakuan”, melainkan “kekitaan” dan mampu menggerakkan politik warga negara, terutama generasi muda.

Pangeran Siahaan, aktivis politik melalui gerakan Ayo Vote menekankan akan pentingnya literasi politik terhadap kaum muda. “Kita harus menghindari meningkatnya angka golput," katanya.

Pangeran menyebutkan, banyak kaum muda yang tidak mengerti fungsi DPR atau bahkan membedakan DPR, DPRD, dan DPD. Banyak yang tidak mengenal calon wakil rakyat. Senayan selalu identik dengan anggota yang jalan-jalan dan shopping. Namun, Banyak politisi muda yang masuk ke Senayan, akhirnya “terkontaminasi”.

Dr Gun memberikan 3 solusi penting. Pertama, pembentukan kaukus politisi muda bersih yang progresif. Kedua, sinergi antara politisi muda dan lembaga non-profit menggerakkan partisipasi politik. Ketiga, peran kritis media dalam mengingatkan politisi muda ini.

sumber: kompas.com










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)