KeMenESDM

Balada Ruangan Mewah Setengah Lapangan Bola di Kantor SKK Migas

Administrator | Jumat, 21 November 2014 - 09:49:07 WIB | dibaca: 2109 pembaca

Balada Ruangan Mewah Setengah Lapangan Bola di Kantor SKK Migas

Jakarta - Selama bertahun-tahun tidak ada banyak orang yang tahu, jika di Kantor Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yang dulunya bernama BP Migas terdapat ruangan mewah bak hotel berbintang 5.

Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, di lantai 40 di Gedung Perkantoran Wisma Mulia terdapat tiga ruangan pimpinan SKK Migas masing-masing 1.000 meter persegi. Tak heran hal tersebut membuat Menteri ESDM Sudirman Said yang dilantik sebulan lalu geleng-geleng kepala.

Sejak kapan ruangan mewah tersebut ada dan apa saja isinya, berikut rangkuman detikFinance dari berbagai sumber, Jumat (21/11/2014).

Terdapat 3 ruangan dengan luas 1.000 meter persegi, berada di lantai 40 Wisma Mulia. Berdasarkan hasil penelurusan detikFinance, Kamis (20/11/2014), biaya sewa di Wisma Mulia itu sekitar US$ 25 atau Rp 300.000 (kurs Rp 12.000) per meter persegi tiap bulan.

Selain itu masih ada biaya service sebesar US$ 7 atau Rp 84.000 per meter tiap bulan. Dengan demikian jika dihitung dengan harga sewa sebesar itu maka SKK Migas harus mengeluarkan uang sewa sebesar Rp 300 juta dikali tiga ruangan menjadi Rp 900 juta.

Jika ditambah dengan uang service bulanan sebesar Rp 84 juta, maka total biaya sewanya menjadi Rp 984 juta per bulan untuk ruangan tersebut saja, belum ruangan lainnya.

SKK Migas menyewa 16 lantai di menara tersebut, mulai dari lantai 21 sampai 40. Lantai 24 tidak ada, sementara lantai 25-26 digunakan oleh PT Kangean Energy Indonesia, dan lantai 32 disewa PT Bank KEB Hana Indonesia.

Sebelumnya SKK Migas berkantor di Gedung Patra Jasa sampai akhir 2010. Setelah sewanya habis, kantor SKK pindah ke Wisma Mulia ini.

Bagaimana di Kantor Ditjen Pajak?

Satuan Kerja Khusus Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memiliki satu ruangan di Wisma Mulia, Jakarta, yang terbilang sangat mewah. Di tempat dengan luas total sekitar 3.000 meter persegi itu, terdapat fasilitas lengkap mulai dari bathtub sampai home theater.

Dibandingkan dengan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, kondisinya bisa dikatakan sangat timpang. Padahal, Ditjen Pajak adalah kontributor terbesar penerimaan negara yaitu mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun.

Fuad Rahmany, Dirjen Pajak, mengatakan institusi yang dipimpinnya justru masih kekurangan kantor. Bahkan ada wajib pajak yang harus menempuh jarak jauh ketika ingin membayar pajak.

"Kantor pajak kita masih kurang, ada orang mau bayar pajak harus jalan 60 km. Jadi akses untuk kantor pajak itu masih susah," kata Dirjen Pajak Fuad Rahmany di Istana Negara, Jakarta, Kamis (20/11/2014).

Namun menurut Fuad, Presiden Joko Widodo (Jokowi) punya komitmen untuk mengembangkan Ditjen Pajak. Terutama untuk menunjang kebutuhan instansi dalam menggenjot penerimaan.

"Intinya tadi Pak Presiden sudah mengatakan bahwa beliau waktu di swasta, kalau pegawainya bisa mendapat uang besar, akan rela membagikan sebagian untuk pegawainya. Itu gambaran yang beliau katakan," papar Fuad.

Meski dirasa akan sulit diimplementasikan pada birokrasi pemerintahan, menurut Fuad hal tersebut sudah menjadi sinyal positif untuk Ditjen Pajak.

"Tapi di pemerintahan kan beda dengan swasta. Intinya Presiden sangat positif terhadap kita, dan beliau sangat saling tidak menyalahkan," tegasnya.

Pengakuan Wamenkeu Mardiasmo yang Pernah Dua Kali Rapat di Sini

Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo pernah dua kali ikut rapat di ruangan mewah Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) di Wisma Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Di mata Mardiasmo, ruang pimpinan petinggi SKK Migas itu sangat mewah jika dibandingkan dengan ruang pejabat negara lainnya.

"Saya sudah 2 kali rapat di sana. Itu terlalu mewah," kata Mardiasmo di Istana Negara Jakarta, Kamis (20/11/2014).

Ruang kerja pimpinan SKK Migas, kata Mardiasmo, lebih mewah dibandingkan ruang kerja dan fasilitas yang diterima menteri hingga pejabat di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

"Masih mewah di (SKK Migas) sana," jelasnya.

Ia telah meminta kepada pimpinan SKK Migas agar pindah dari ruang kerja yang dinilainya terlalu mewah. Alasannya kondisi rakyat Indonesia yang masih banyak yang susah serta pemerintah masih membutuhkan dana yang besar untuk membangun infrastruktur.

Bertolak Belakang dengan Semangat Efisiensi Jokowi

Ruangan mewah seluas setengah lapangan bola di Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dinilai tidak sejalan dengan semangat efisiensi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo yang pernah ikut rapat dua kali di ruangan itu merasa tidak nyaman. Pasalnya, Indonesia sedang membutuhkan banyak dana untuk pembangunan infrastruktur.

"Saya tidak enak tinggal di situ karena masyarakat lagi susah. Kita butuh infrastruktur dasar untuk irigasi, masak kita tinggal di tempat yang mewah. Sebaiknya kita sederhana," kata Mardiasmo ketika ditemui di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (20/11/2014).

Ia mengatakan, ruang pimpinan petinggi SKK Migas yang terletak di Wisma Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, itu sangat mewah jika dibandingkan dengan ruang pejabat negara lainnya.

"Saya sudah 2 kali rapat di sana. Itu terlalu mewah," kata Mardiasmo.

Ruang kerja pimpinan SKK Migas, kata Mardiasmo, lebih mewah dibandingkan ruang kerja dan fasilitas yang diterima menteri hingga pejabat di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

"Masih mewah di (SKK Migas) sana," jelasnya.

Wamenkeu: Pindah Kantor Segera Mungkin!

Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo meminta satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk pindah kantor sesegera mungkin. Pasalnya, di kantor SKK Migas itu ada ruangan mewah yang luasnya setengah lapangan sepakbola.

Ruangan yang mewah itu dinilai sangat bertolak belakang dengan semangat pemerintahan Jokowi untuk berhemat. Jika SKK tidak bisa pindah kantor, Mardiasmo meminta ruangannya dibuat sederhana saja.

"Saya dengan Pak Kepala meminta supaya dibuat sederhana dan kantornya dipindah. Masak kita tinggal di tempat yang mewah. Sebaiknya kita sederhana," kata Mardiasmo ketika ditemui di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (20/11/2014).

Mardiasmo mengatakan, berdasarkan info dari Kepala SKK Migas ada perjanjian penggunaan ruang kerja dengan operator gedung. Akibatnya harus ada kontrak sewa yang harus dipatuhi dan mengikat.

Maka dari itu Mardiasmo meminta pimpinan SKK Migas untuk mempelajari perjanjian sewa gedung tersebut.

"Saya minta kotrak dipercepat. Kalau bisa dipercepat akhir tahun bisa keluar. Kalau itu nggak ada penalti. Ya keluar (pindah kantor) segera mungkin," sarannya.

Pengakuan Mantan Anggota Komite Pengawas SKK Migas

Mantan Anggota Komite Pengawas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Mahendra Siregar mengakui ada ruangan khusus untuk pimpinan di Kantor Pusat SKK Migas di Wisma Mulia. Namun ia menegaskan tidak pernah menggunakan ruangan tersebut.

"Oh itu (ruangan mewah) saya nggak pakai itu. Karena kami sebagai anggota (komite pengawas) tidak punya hak dan tidak punya fasilitas seperti itu," ujar Mahendra ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Kamis (20/11/2014).

Mahendra sewaktu masih menjabat Kepala BKPM merupakan salah satu anggota Komite Pengawas SKK Migas. Komite tersebut juga terdiri dari Menteri ESDM, Wakil Menteri ESDM, Wakil Menteri Keuangan dan BKPM.

"Yang saya pakai saat itu hanya ruangan rapat, dan ruangan rapat di sana sebenarnya hampir sama seperti yang di sini (Kemenko Perekonomian)," ungkapnya.

Tapi ia mengakui, tiga ruangan mewah dan luasnya masing-masing mencapai 1.000 m2 tersebut seharusnya diganti untuk kegiatan yang lebih produktif sekaligus untuk melakukan penghematan.

"Saya rasa penghematan-penghematan harus dilakukan, harus diubah yang orientasinya pada kerja yang efektif, tidak perlu hal-hal yang berlebihan, tapi toh masing-masing seperti saya dulu kan (di BKPM) sudah punya kantor utama dan tidak perlu lagi ruangan khusus, tinggal dicarikan ruangan rapat yang baik saja itu sudah cukup," tutupnya.

Ini Perintah Sudirman Said Soal Ruangan Tersebut

Menteri ESDM Sudirman Said meminta Kepala SKK Migas Amin Sunaryadi segera mengganti fungsi ruangan di Kantor SKK Migas yang luasnya setengah lapangan sepak bola menjadi pusat pelatihan.

"Terkait ruangan 'lapangan bola' tersebut, saya meminta minggu depan Pak Amien mengubah fungsi ruangan yang di lantai 40 Wisma Mulia seluruhnya menjadi training center. Buat apa tempat mewah seluas itu?" tegas Sudirman.

Sudirman akan memastikan bahwa ruangan mewah itu benar-benar akan diubah. "Nanti kalau sudah diubah kita semua tengok training center-nya seperti apa," ujarnya.

Di lantai 40 Wisma Mulia, tempat SKK Migas berkantor, terdapat ruangan mewah yang cukup luas. Ruangan yang luasnya setengah lapangan bola itu punya fasilitas yang lumayan lengkap.

Dalam ruangan itu, terdapat kamar tidur, kamar mandi plus bathtub, ruang rapat, dan sebagainya. Namun belum diketahui fungsi ruangan tersebut.

Sudirman juga meminta kepada Amien untuk memindahkan atau menganti ruangan Kepala SKK Migas menjadi yang lebih sederhana.

"Pak Amin harus bisa memberikan pesan kesederhanaan. Kita ini pelayan masyarakat, tidak boleh dibungkus yang berlebihan," katanya.

Sumber: detik.com










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)