Bisnis

AS Pimpin Perang Harga Minyak

Administrator | Selasa, 06 Januari 2015 - 09:15:11 WIB | dibaca: 2887 pembaca

JAKARTA, Awal tahun ini, harga minyak kembali merosot dan menembus level terendah lebih dari 5,5 tahun. Selain suplai melimpah, perang harga minyak memperburuk harga. Sebuah spekulasi menyebutkan, Amerika Serikat (AS) sengaja membanjiri pasar dengan minyak serpih (shale oil) terutama untuk menghancurkan perekonomian Rusia dan Venezuela.

Mengutip Bloomberg, Jumat (2/1/2014), harga minyak West Texas Intermediate di New York Mercantile Exchange pengiriman Februari 2015 turun 1,08 persen dibandingkan dengan hari sebelumnya ke 52,69 dollar AS per barel. Ini merupakan penutupan harga terendah sejak 30 April 2009.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro, seperti dikutip Reuters menuduh, pelemahan harga minyak merupakan sebuah konspirasi rancangan AS untuk menghancurkan ekonomi Rusia. Perang harga juga ditujukan untuk menghancurkan revolusi dan meruntuhkan ekonomi Venezuela. "Ini adalah perang yang direncanakan secara strategis, juga ditujukan untuk Venezuela," kata Maduro.

Ia menyebutkan, AS membanjiri pasar dengan minyak serpih sehingga harga minyak jatuh. Venezuela dan Rusia dianggap sebagai negara yang paling terpukul dari jatuhnya harga minyak. Harga minyak Venezuela di pasar ekspor anjlok hingga setengahnya pada paruh kedua tahun 2014 menjadi 48 dollar AS per barel.

Harga minyak semakin merosot karena suplai melimpah. Produksi minyak Rusia bulan Desember naik 0,3 persen ke rekor tertinggi 10,67 juta barel per hari. Di sisi lain, aktivitas manufaktur Eropa dan China bulan Desember 2014 menunjukkan perlambatan.

Ariston Tjendra, Head of Research and Analysis Division PT Monex Investindo Futures, mengatakan, harga minyak masih akan bergerak melandai. Kalaupun ada kenaikan sedikit (rebound) hanya  sementara. Salah satunya lantaran OPEC enggan memangkas produksi minyak.

Serangkaian sentimen negatif akan menggerogoti kinerja minyak mentah. "Sebagai pengguna minyak, merosotnya aktivitas manufaktur China akan mengurangi permintaan minyak," jelas Ariston. Di sisi lain, kokohnya dollar AS sesemakin merapuhkan harga minyak.

Nizar Hilmy, analis PT SoeGee Futures, bilang, harga minyak tahun 2014 telah mencatatkan penurunan terbesar dalam enam tahun. Tahun ini, tekanan minyak masih akan berlangsung dan berpeluang rontok ke 50 dollar AS per barel dalam waktu dekat.

Secara teknikal, lanjut Ariston, harga minyak masih melemah. Harga berada di bawah moving average 20, 50, 100 dan 200. MACD di bawah level nol,. Garis MACD berada di atas garis sinyal.

Kondisi ini menunjukkan  kemungkinan rebound jangka pendek. Stochastic telah memasuki area jenuh beli (oversold) dan berada di level 15 persen. Sedangkan relative strength index (RSI) juga berada di area oversold di level 26 persen. Ariston memprediksi, harga minyak sepekan mendatang berada di kisaran 50 dollar AS- 57 dollar AS per barel. Sementara Nizar menduga harga minyak sepekan terbentang dari 50 dollar AS-55 dollar AS per barel. (Dina Farisah)

sumber: kompas.com










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)